Tuesday, 8 August 2017

KETIKA ZOYA DIPANGGANG SAMPAI MATI

KETIKA ZOYA DIPANGGANG SAMPAI MATI πŸ˜’
Nama saya Muhamad Al-Zahra. Orang memanggil saya Zoya. Saya cuma orang biasa. Sehari-hari pekerjaan saya membaiki barang elektronik. Kadang mencari TV rosak untuk dibaik pulih. Atau radio bekas. Atau amplifier. Kalau sudah bagus baru dijual.
Alhamdulillah, Allah memberi saya kemampuan itu. Sebab dengan kemampuan itulah saya menafkahi anak istri saya. Anak saya satu, masih lima tahun. Istri saya, Siti Zubaidah sedang hamil enam bulan. Rupanya Allah ingin menitipkan lagi amanahnya kepada saya.
Makanya saya harus bekerja lebih keras agar boleh menjaga amanah itu.
Hari itu, selepas subuh saya berangkat dari rumah. Perempuan sederhana dan polos mengantar saya sampai ke depan pintu. Seperti biasa, dia melepas saya dengan mencium tangan. Mungkin juga dengan sebait doa semoga ada rezeki halal yang bawa kubawa pulang.
Allah memang Maha Baik. Saya mendapatkan amplifier bekas untuk dibaiki. Terbayang upah Rp 50 ribu atau seratus ribu. Lumayan buat beli beras dan lauk. Juga jajan untuk anak. Kamu tahu kan, anak lima tahun biasanya suka makan jajan.
Petang itu, saya hendak pulang. Tapi azan asar memanggil. Saya ingin berterima kasih kepada Allah yang selalu memperhatikan keperluan hambaNya. Di sebuah surau kecil saya datang, sholat dan berdoa.
Sebelum masuk surau saya menurunkan amplifier rosak dari motor. Bukan kerana saya tidak bertawakal kepada Allah, dengan membiarkan barang itu tertinggal di atas motor. Tapi kerana saya yakin, tawakal juga perlu ikhtiar. Makanya amplifier itu saya bawa ke dalam surau.
Justeru itulah awal penderitaanku. Seseorang menuduhku mencuri amplifier milik surau. Tanpa bertanya mereka ramai-ramai meneriakkan : pencuri!
Aku sangat terkejut. Siapa yang boleh menjelaskan pada masa yang marah? Aku berlari menjauhkan diri tapi mereka memburuku seperti mengejar seekor babi.
Aku berlari semakin cepat tapi masa juga bertambah banyak. Kakiku terlanggar sesuatu dan lalu jatuh. Dan kemudian makhluk-makhluk sangat marah itu menimpakan aku dengan apa saja yang ada di genggamannya. Sebongkah batu ditimpakan ke wajahku. Tulang hidungku patah.
Lalu ada bata melayang mengerkah tenggkorak kepalaku. saat itu yang boleh aku bisikkan hanya nama Allah, yang beberapa minit lalu baru kusebut dalam solat asarku.
Saat bata itu memecah tulang tengkorakku, aku hanya membayangkan istriku yang sedang mengandung anak keduaku. Aku membayangkan wajah kecil anakku yang menangis jika melihat bapaknya diperlakukan seperti tikus .
Tubuhku terkapar di jalanan. Darah merembes membasahi tanah. Darah dari seorang lelaki yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya.
Lalu seorang menyiramkan petrol ke tubuhku. Orang lainnya menyalakan api. Dan mereka menyaksikan sebuah tubuh yang menggelumpur kerana dipanggang.
Mereka mungkin puas melampiaskan kemarahannya padaku. Setelah itu mereka pulang dan menyaksikan wajahnya sendiri yang telah berubah menjadi iblis. Mungkin saja iblis sendiri ngeri melihat ada manusia lebih biadab dari dirinya.
####
Tuhan, tahukah Engkau, semalam amplifier yang ada di rumahmu mau dicuri orang. Mujur ketahui. Dia meronta dan kabur. Kami mengejarkanya seperti memburu tikus .
Dia mengaku bukan pencuri. Tapi buat apa kami dengar cakapnya. Bagi kami, amplifier-Mu lebih berharga dari pengakuan siapapun. Apalagi pengakuan dari lelaki yang tidak kami kenal yang saat Asar hampir ke surau.
Surau ini memang boleh disinggahi siapa saja. Ini adalah tempat bersujud manusia kepada-Mu. Tapi disini ada amplifier seharga 250 ribu, yang biasa kami gunakan untuk memanggil-manggil namaMu. Jika benda itu dicuri, lantas bagaimana kami akan memanggil-Mu?
Engkau yang sudah biasa diseru dengan speaker bersuara pekak, apakah akan maklum jika disebut dalam kesyahduan yang sunyi? Jikapun Engkau memaklumi, kaminya yang janggal. Mana mungkin nama besarMu tidak diagung-agungkan dengan teriakan lantang.
Maka dari itu, Tuhan, kami akan mencurigai siapapun yang mendekati amplifier di musholla. Kami akan buru dia seperti haiwan.
Ya, Tuhan kami, kami tahu kami tidak mampu menjaga amplifier milik-Mu sendiri. Lantas kalau bukan kami yang menjaganya, siapa lagi?
Tuhan kami, yang Maha Perkasa, izinkan kami jadi algojomu demi menjaga amplifierMu.
Izinkan kami mencurigai orang yang keluar dari surau membawa amplifier. Akhirnya orang itu kami hentam ramai-ramai.
Seseorang dari kami menyiramnya dengan petrol. Lalu menyalajan api ke tubuhnya. Dia mengelumpur dan mati. Tapi api yang kami sulutkan ke tubuhnya, tidak sepanas api nerakamu, bukan?
Mungkin begitulah nasibnya. Itu semua kami lakukan karena kami hanya hendak menjaga amplifuer milik-Mu.
Ketika kami tahu ternyata dia bukan pencuri bagaimanakah kami boleh mengubati hati yang tiba-tiba terluka dalam penyesalan. Bagaimanakah kami boleh menghapus bayangan seorang lelaki yang tubuhnya menggelepar dijilat api.
###
Nama saya Alif, usia 5 tahun. Bapak saya mati dibakar orang sehabis sholat ashar. Dan masa depan saya juga ikut terbakar. Dan orang-orang masih boleh tertidur nyenyak setelah menyaksikan tubuh bapak saya mengelumpur dalam kobaran api dari layar ponselnya.
###
Nama kita entah siapa. Yang kita tahu betapa mengerikan hidup di tengah mahluk-mahluk buas ini.
#Repost
From: [ Eko Kuntadhi ]
Kalaupun benar Beliau terbukti mencuri, tak seharusnya di bakar seperti ini, beliau juga Manusia bukan binatang atau sampah, Dimanakah perikemanusiaan mereka... Astaghfirullahhh πŸ˜’😒😒 NEGARA KITA NEGARA HUKUM !!!
😒😒😒
### SEMOGA BELIAU DITEMPATKAN DI SURGAMU YA ALLAH... DAN SEMOGA UNTUK KELUARGA YG DITINGGALKAN DIBERI KETABAHAN, KEIKHLASAN... TERUTAMA ISTRINYA SEMOGA DI MUDAHKAN SEGALA URUSANNYA, DI MUDAHKAN RIZKINYA, DIBERI KESEHATAN UNTUK MENJAGA & MEMBESARKAN ANAKNYA.. AMIINNNN

No comments:

Post a Comment