Sunday, 15 November 2015

Tasawuf


WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH MENURUT SYEKH IBNU ATHA’ILLAH
“Wushul (sampai) kepada Allah adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa sampainya kita kepada Allah, seperti diisyaratkan oleh ahli tarekat, adalah sampainya kita kepada penyaksian-Nya dengan mata batin kita. Inilah yang disebut dengan penyaksian langsung atau ‘ilmul-yaqiin terhadap tajalli (penampakan) Allah dan limpahan kasih sayang-Nya.

Penyaksian ini juga disebut sebagai perkenalan langsung dengan mata batin dan perasaan fitrah. Para ahli syuhud berbeda-beda dalam mendapatkannya. Ada yang mendapatkan tajalli perbuatan Allah. Disini, perbuatan mereka dan perbuatan selain mereka sirna melebur dalam perbuatan Allah. Mereka tidak melihat sosok pelaku sebuah perbuatan, kecuali Allah. Pada kondisi ini, mereka akan keluar dari ikhtiar dan usaha. Ini adalah tingkatan pertama sampainya seseorang kepada Allah (wushul).

Ada pula yang mendapatkan tajalli sifat-sifat Allah. Disini mereka akan berdiri penuh pengagungan dan kerinduan terhadap apa yang dilihat oleh mata batin mereka, berupa keagungan dan keindahan Allah. Ini adalah tingkatan kedua sampainya seseorang kepada Allah.

Di antara mereka ada yang sampai kepada maqam kefanaan. Batinnya berisi cahaya keyakinan dan musyahadah. Ketika syuhud, ia tidak lagi merasakan wujud dirinya. Ini adalah tajalli dzat yang berlaku pada kaum khusus dan orang-orang muqarrabin. Ini adalah tingkatan ketiga dalam wushul.

Di atasnya lagi ada tingkatan haqqul yaqiin. Di dunia, tingkatan ini terjadi dalam bentuk lamh (pandangan sekilas), yaitu mengalirnya cahaya musyahadah di sekujur tubuh seorang hamba sampai ruhnya pun turut mendapatkannya, demikian pula kalbu dan jiwa-nya. Ini adalah tingkatan tertinggi wushul.

Dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif disebutkan, “Jika segala hakikat telah diraih, seorang hamba dengan ahwalnya yang mulia ini akan mengetahui bahwa dirinya masih berada di tingkat pertama. Lalu, bagaimana dengan wushul haqiqi (wushul secara fisik)? Mustahil, karena jalan wushul tidak akan pernah terputus selamanya, sepanjang usia akhirat yang abadi. Lantas, bagaimana mungkin wushul haqiqi itu terjadi di umur dunia yang pendek ini?

Jadi, yang dimaksud dengan wushul adalah sampainya kita kepada pengetahuan tentang Allah dengan media perasaan dan fitrah. Jika pengertiannya tidak demikian, berarti wushul kita tidak benar, karena Allah tidak mungkin menyentuh atau disentuh sesuatu secara lahir dan batin. Bagaimana mungkin Dzat yang tidak ada bandingnya akan bersentuhan dengan sesuatu yang memiliki bandingan. Padahal, syarat terjadinya persentuhan adalah adanya kesamaan sifat di antara keduanya. Sedangkan, secara mutlak tak ada kesamaan antara Dzat Yang Maha Sempurna dengan sesuatu yang tidak sempurna atau kurang sempurna.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam juga mengatakan: “Kedekatanmu dengan-Nya adalah ketka engkau menyaksikan-Nya mendekatimu, karena bagaimana mungkin engkau bisa mendekati-Nya?”

Menurut Syekh Syarqawi, kedekatan kita kepada-Nya adalah ketika kita menyaksikan-Nya secara maknawi sehingga engkau merasa sangat diawasi oleh-Nya. Buahnya adalah, engkau akan terdorong untuk selalu bersikap sopan saat ada di hadirat-Nya. Jadi, hal yang penting di sini adalah bagaimana engkau menyaksikan kedekatan-Nya. Dengan penyaksian ini, kau merasa diawasi dan dikuasai oleh rasa takut yang akan mendorongmu untuk bersikap sopan saat bertamu kepada-Nya. Inilah pengertian kedekatan seorang hamba dengan Allah; dan tidak mungkin makhluk dapat mendekati-Nya secara nyata.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi


PERBEDAAN ANTARA SALIK DAN MAJDZUB
“Dia (Allah) menunjukkan wujud nama-Nya melalui keberadaan makhluk-Nya. Diam menunjukkan sifat-sifat-Nya melalui keberadaan nama-Nya. Dia menunjukkan wujud dzat-Nya melalui keberadaan sifat-sifat-Nya. Karena, tak mungkin sifat tersebut ada dengan sendirinya.

Orang-orang yang ditarik dan didekatkan kepada-Nya (majdzub) akan diperlihatkan kepada kesempurnaan dzat-Nya, kemudian dibawa untuk menyaksikan sifat-Nya, lalu digiring untuk bergantung kepada nama-Nya, selanjutnya dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya.

Adapun para salik, mereka mengalami keadaan (hal) sebaliknya. Akhir perjalanan para salik adalah awal perjalanan kaum majdzub. Sedangkan, awal perjalanan salik adalah akhir perjalanan kaum majdzub. Hal tersebut tidak berarti bahwa keduanya sama. Boleh jadi keduanya bertemu di jalan, yang satu sedang naik, sedangkan yang lainnya sedang turun.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa Allah menunjukkan asma-Nya melalui keberadaan jejak-jejak ciptaan-ciptaan-Nya yang baik dan sempurna. Semua ciptaan tidak akan terwujud, kecuali dari Dzat Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui.

Dia juga menunjukkan sifat-sifat-Nya seperti qudrah (Mahakuasa), iradah (Maha Berkehendak), dan ‘ilm (Maha Mengetahui) melalui keberadaan asma-Nya. Melalui sifat-sifat-Nya tersebut Dia menunjukkan wujud dzat-Nya, karena tak mungkin sifat itu ada dengan sendirinya, tanpa sosok yang memiliki sifat tersebut.

Inilah keadaan para salik. Hal pertama yang tampak bagi mereka adalah jejak-jejak Allah, yaitu berupa perbuatan-Nya (af’al). Mereka kemudian menjadikan perbuatan-Nya itu sebagai bukti adanya asma Allah. Asma Allah tersebutmenunjukkan adanya sifat-sifat-Nya. Dengan sifat-sifat itu pula, mereka membuktikan adanya dzat Allah. Mereka yang berkata “Kamai tidak pernah melihat sesuatu, kecuali setelah itu kami melihat Allah padanya.”

Sedangkan orang-orang yang majdzub mengalami kejadian sebaliknya. Hal itu diisyaratkan oleh Syekh Ibnu Atha’illah melalui mutiara hikmahnya, “Orang-orang yang ditarik dan didekatkan kepada-Nya (majdzub) akan diperlihatkan kepada kesempurnaan dzat-Nya,” yaitu agar mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri dan perasaannya sendiri. “Kemudia mereka dibawa untuk menyaksikan sifat-Nya,” bermakna melihat hubungan sifat-sifat itu dengan dzat-Nya.

“Lalu digiring untuk bergantung kepada nama-Nya, selanjutnya dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya,” misalnya dengan menyaksikan hubungan antara asma Allah dengan makhluk. Karena makhluk itu sendiri bersumber dari asma Allah, mereka akan dikembalikan lagi untuk menyaksikan makhluk-Nya.

Hal pertama yang tampak bagi kaum majdzub adalah hakikat Dzat Yang Suci, lalu mereka ditarik dari sana untuk melihat sifat-sifat-Nya. Selanjutnya, mereka kembali untuk bergantung kepada asma-Nya. Setelah itu, mereka diturunkan lagi untuk melihat makhluk-makhluk-Nya. Mereka itulah yang berkata, “Kami tidak melihat sesuatu, kecuali kami sebelumnya melihat Allah.”

Jika akhir perjalanan para majdzub adalah melihat makhluk-makhluk Allah setelah melihat Allah, maka akhir perjalanan para salik berbeda. Di akhir perjalanannya, para salik menyaksikan Dzat suci-Nya dan mengungkap kesempurnaan-Nya setelah sebelumnya melihat makhluk-Nya.

Dengan demikian, awal perjalanan para salik adalah akhir perjalanan kaum majdzab, yaitu melihat makhluk dan menyaksikan ketergantungannya kepada Allah. Itu merupakan akhir perjalan kaum majdzub. Namun demikian, tidak berarti kedua golongan itu sama karena di akhir perjalanannya, meski mereka juga akan ditarik Allah (jadzab), para salik harus terlebih dahulu memiliki keteguhan dan ilmu tentang keadaan (hal) perjalananya, serta pengetahuan tentang hambatan jiwanya.

Mereka tak akan ditarik Allah, kecuali setelah melalui perjuangan dan kesulitan. Lain halnya dengan awal perjalanan para majdzub, mereka tidak perlu memiliki keteguhan kalbu. Maka, di awal perjalananya, mereka kerap mengalami ghaibah (ketidaksadaran) dan tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Terkadang mereka meninggalkan kewajiban dan melakukan kemungkaran-kemungkaran syar’i. Namun, mereka tidak disiksa atas hal itu, karena akal mereka, yang merupakan alasan taklif, sedang tertutup oleh cahaya.

Di awal perjalan para salik, mereka tidak menyaksikan kesempurnaan dzat, asma, dan sifat-Nya. Lain halnya dengan akhir perjalanan para majdzub, mereka tidak mengalami kesadaran, kecuali setelah melihat kesempurnaan dzat, asma, dan sifat-Nya.

Para salik beramal untuk meningkatkan diri mereka di jalan kefanaan dan kesirnaan. Sedangkan, para majdzub dipaksa berjalan untuk menuruni jalan keabadian (baqa) dan jalan kesadaran. Jika demikian, dapat juga keduanya bertemu di tengah jalan. Yang satu sedang naik dari makhluk menuju khalik, sedangkan yang lain sedang turun dari Khalik menuju makhluk.

Mungkin keduanya bertemu dalam tajalli asma dan sifat-sifat-Nya, yakni masing-masing dari mereka menyaksikan asma-Nya. Namun, seorang majdzub jika berpindah dari situ, berarti ia berpindah kepada makhluk, sedangkan salik berpindah kepada sifat-Nya. Tentu saja, salik lebih utama dari majdzub karena ia banyak mengalami manfaat dari perjalananya. Lain halnya dengan majdzub, jika Allah menghendaki untuk menyempurnakan kondisinya, Allah akan membuatnya sadar.

Masing-masing dari ilmu salik dan majdzub bersumber dari perasaan, walaupun prinsip ilmu salik lebih bersifat deduktif, sebagaimana yang disimpulkan dari ungkapan, “Dia menunjukkan wujud nama-Nya melalui keberadaan makhluk-Nya...”
Seorang majdzub, selama masih mengalami jadzab, tak layak untuk mendapat gelar “Syekh” karena dia belum melewati berbagai maqam dan belum mengetahui berbagai petaka jiwa. Selain itu, dia masih sibuk menjalani satu kondisi sehingga melupan kondisi lainnya.

Demikian juga dengan salik, jika ia belum mencapai taraf musyahadah dan tajalli, dia tidak layak mendapat gelar “Syekh” karena dia belum sempurna. Yang layak mendapat gelar “Syekh” hanyalah orang yang telah berhasil menghimpun keduanya, baik perjalanan suluk-nya lebih dahulu dari jadzab-nya, maupun sebaliknya.

Terkadang, seorang majdzub melewati berbagai maqam dengan cepat dan dia juga mengetahui berbagai petaka jiwa sehingga dia layak menjadi syekh, meski harus tetap dengan kondisi jadzab-nya. Namun, ini hanya terjadi pada beberapa orang majdzub saja, seperti sosok Sayyid Ahmad Al-Badawi, dan tidak terjadi pada setiap majdzub.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam juga mengatakan, “Kadar cahaya kalbu dan rahasia jiwa hanya diketahui dalam selubung malakut, sebagaimana cahaya langit hanya tampak di alam dunia ini.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

No comments:

Post a Comment